Jumat, 11 Mei 2012

Resensi Buku: Panatisme Otoda Membayangi Ancaman Negara Kesatuan


Judul         : Otonomi Daerah, Etnosentrisme dan Masa  Depan Indonesia
Editor        : Bungaran A. Simanjuntak
Penerbit    :  Yayasan Pustaka Obor
Halaman  :   xxi - 270
Tahun      :    2011

       Selama satu dasawarsa lebih otonomi daerah (otoda) telah dijalani dengan segala suka dan dukanya. Arus balik kekuasaan dari pusat ke daerah, lantas menempatkan kabupaten dan kota secara mandiri mengembangkan dan memberdayakan  potensi sumber daya alam dan manusia yang dimiliki daerah.
      Otoda pada sisi lain membuka ruang lebih luas bagi sumber daya manusia di daerah untuk diberdayakan. Tetapi dalam beberapa kasus dan kejadian, akibat penerapan otoda memunculkan panatisme otoda. Rekruitmen dan penempatan elite politik dan birokrasi cenderung menggunakan pendekatan putra daerah dan bukan putra daerah.
      Soal pengelolaan sumber daya alam, juga kadang terlalu kebablasan, sehingga ada daerah dengan mudah memberikan konsesi pengelolaan hutan dan tambang dalam skala lebih besar. Investor yang tanam modal di daerah itu, seringkali pula ikut bermain dalam politik terutama dalam pemilihan pemimpin politik di daerah. 
       Persekongkolan ekonomi dan politik yang terjadi kemudian berujung pada kerugian yang dialami oleh rakyatm karena mungkin saja sumber daya alam itu lantas tidak lagi dikelola dan diberdayakan secara maksimla untuk kemaslahana rakyat yang ada di wilayah tersebut. 
       Buku yang merupakan bunga rampai ini memberikan kepada pembaca tentang dinamika perjalanan otoda selama 10 tahun lebih. Tema yang dibahas cukup aktual dan menarik untuk didalami secara mendalam karena menyangkut persoalan hidup warga negara Indonesia.
        Pada buku ini ada pembahasan tentang, telaah otoda; otoda dan studi konparasi internasional; keadilan dalam alokasi anggaran pusat dan daerah; fenomena keadilan dalam otoda; otodan dan kebijakan pemerintah; ancaman dari etnosentrisme dan etnonasionalisme; otomi klasisk prakemerdekaan serta otoda, etnonasionalisme dan masa depan Indonesia.
        Perjalanan otoda selama 10 tahun terakhir, dibayangi dengan beberapa kendala yang kemudian akan menjadi ancaman dan hambatan pencapaian sasaran otoda.  ‘’ Salah satu penghambat itu adalag panatisma. Didalam sifat fanatik ini maka kesukaan   sangat ditonjolkan menjadi kendala yang justru mengganggu keberadaan negara untuk jangka panjang.  ‘’ halaman 215.
        Selain persolan panatisme kesukuan menurut penulis dalam buku ini, masalah lain menjadi kendala pencapaian otoda termasuk di antaranya; panatisme kedaerahan, panatisme keagamaan, panatisme ras serta fanatisme kesejarahan.
       Beragam fanatisme itu jika tidak disikapi secara bijak dan penuh kearifan, ujung-ujungnya otoda yang merupakan salah satu buah dari reformasi tahun 1998, cepat atau lambat pada akhirnya akan mengaburkan tujuan dan cita-cita luhur reformasi.
       Buku yang merupakan hasil karya dari mahasiswa program magister antropologi sosial Universitas Negeri Medan. Pada bagian lain dalam buku itu juga dipaparkan secara rinci, tentang euporia pemekaran daerah. 
       Otonomi daerah menjadikan pemekaran daerah bermunculan pada hampir seluruh Indonesia. Jumlah kabupaten kota dan kabupaten terus bertambah demikian halnya dengan jumlah provinsi yang terus bertambah jumlahnya.
       Euforia yang berlebihan soal pemekaran ini kemudian menjadikan para elite politik, menjadikan pemekaran sebagai bagian untuk melanggengkan kekuasan dan kewenangan.
       Elite politik yang kalah dalam pilkada misalnya, kemudian menjadi pelopor untuk pemekaran daerah untuk selanjutnya memburu kekuasaan menjadi bupati dan gubernur di wilayah baru tersebut. Pemekaran daerah pada beberapa kejadian yang menjadi studi kasus di wilayah Sumatera Utara, ada di antaranya memekarkan kabupaten dan kota sesuai dengan nama suku dalam suatu wilayah. Pola demikian lantas, semakin mengukuhkan fanatisme kedaerah dan kesukuan yang saling kait mengkait. 
      Cita-cita luhur dari otoda guna kesejahteraan bersama rakyat , harus dikedepankan dengan memberi  rasa aman dan kesejahteran rakyat terus meningkat. Lewat otoda sangat diharapkan rakyat tidak malah menjadi sapi perahan akibat bermacam-macam pajak dan retribusi yang kemudian memberatkan rakyat. 
      Jika kondisi demikian masih tetap saja hadir selama 10 tahun otoda, itu berarti cita luhur otoda tidak mampu terealisasi. Otoda yang menjadi semangat awal untuk kesejahteraan malah berbalik menjadi pemerasan bagi rakyat dengan bermacam nama dan istilah. (moh yahya mustafa)   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar