Rabu, 20 Februari 2013

Tarikan Geopolitik dalam Pemilihan Bupati Sinjai


Oleh: Moh Yahya Mustafa
                                            Alumni SMA Negeri 277 Sinjai 1984

         Pertarungan politik memperebutkan posisi Bupati Sinjai periode 2013-2018, pasca Bupati Andi Rudiyanto Asapa  semakin keras dan kencang. Bakal calon bupati (balon) akan bertarung memperebutkan simpati dan suara pemilih sebanyak 179.748 jiwa, jumlahnya mencapai 12 pasang mendaftar di KPU Sinjai 
        Realitas politik demikian memberi indikasi begitu banyak putra terbaik daerah  punya nyali dan hasrat memasuki pertarungan politik pilbup, yang kadang kejam dan tidak mengenal kawan dan lawan.
        Fase pilbup Sinjai  memasuki tahap  klarifikasi balon,  kemudian ditetapkan siapa jadi calon bupati,  bakal bertarung pada Pilbup Sinjai digelar,  17 April 2013. 
        Balon yang mendaftar itu terdiri atas 4 paket dari jalur independen,  dan 8 paket calon dari jalur partai politik. Mereka dari jalur independen adalah;  Lukman Arsal-Djamalaluddin Ramli; A.Jefrianto Asapa- Hermansyah Rawi; Muhlis Isma-A.Musa Rasyid; Amru Ridjal Junaid- Zainuddin Fatbang, 
      Balon dari jalur partai politik yakni ;  Sabirin Yahya-Fajar Yanwar, didukung Partai Demokrat, PBR dll;  Syamsul Qamar-Marwah Djufri (PKS,PKB dan PDK);A.Mahyanto Masda-Massalinri Latif (Partai Golkar dan Hanura);  Anis Asra- Muh Yahya ( PDIP, Barnas, PPD, PNBK, Partai Marhaenisme dll); Hasan Basri Ambarala-Sultani ( Republikan);   Muhlis Panaungi - Zulfikar Hamid (PAN dan PPP); Irwan Parawari-Takdir (Hanura, Partai Kedaulatan dan PBB; Andi Gadista Asapa-Mukhtar Mappatoba (PAN, PPRN). 
      Munculnya dukungan ganda pada balon bupati yang mendaftar di KPU, sehingga, finalisasi dan klarifikasi KPU Sinjai dilakukan ke pengurus pusat partai,  guna  memberi jawaban,  sekaligus menentukan siapa lolos seleksi jadi  calon bupati.
Geopolitik Lokal
       Pilbup Sinjai 2013, termasuk luar biasa dalam percaturan politik. Pertama kali dalam sejarah mencatat, munculnya  calon independen ikut bertarung  memperebutkan suara rakyat. Calon independen itu  pertanda, masyarakat semakin cerdas,  semangat berpolitik sangat tinggi dalam memunculkan pemimpin lima tahun ke depan. 
       Kehadiran balon bupati independen memberi indikasi, posisi jabatan bupati memberi daya tarik dan pesona kekuasaan sangat kuat. Para petarung itu adalah politisi dan profesional lainnya. Mereka hendak mengabdikan dirinya melayani rakyat dan mencarikan jalan keluar dari persoalan kehidupan keseharian.
       Maraknya balon bupati bertekad maju menjadi calon, terkait dari realitas politik, sosok bupati incumbent Andi Rudiyanto tidak lagi mencalonkan diri selaku kandidat. 
      Membaca peta perpolitikan lokal Sinjai, tidak terlepas dari geopolitik,  dengan memahami sejarah masa lalunya.  Wilayah ini di masa lalu dikenal, adanya tiga kerajaan berdaulat  dan saling menghargai. Ketiga kerajaan itu dikenal persekutuan Tellu Limpoe, terdiri atas Kerajaan Tondong, Kerajaan Bulobulo dan Kerajaan Lamatti.
       Wilayah Kerajaan Tondong,saat ini masuk Kecamatan Sinjai Timur, Kecamatan Tellu Limpoe dan sebagian Kecamatan Sinjai Tengah. Kerajaan Bulobulo, wilayahnya saat ini mencakup,Kecamatan Sinjai Selatan, Kecamatan Sinjai Barat dan Kecamatan Borong Kompleks. Wilayah Kerajaan Lamatti, kini mencakup Kecamatan Sinjai Utara, Kecamatan Bulupoddo dan Kecamatan Pualu-Pulau Sembilan.   
      Tarikan sentimen sejarah politik masa lalu, menjadi bagian dari realitas kekinian. Elite politik dan birokrasi yang berkuasa dan memerintah, tidak terlepas dari turunan dan keluarga besar ketiga kerajaan di masa lalu itu.
      Kekuatan calon yang dapat memenangkan pertarungan pemilihan bupati, minimal mampu menjalin koalisi di antara ketiga kerajaan masa lalu itu. Paket bupati dan wakilnya akan meraih dukungan sifnifikan dan memenangkan pertarungan, kalau menjadikan sentimen masa lalu sebagai salah satu variabel menetapkan paket calonnya.
     Jika misalnya  calon bupati berasal dari wilayah Lamatti, maka wakilnya sebaiknya berasal dari Tondong atau Bulobulo, begitu pula sebaliknya. Pola penggabungan dua tarikan kerajaan masa lalu di kalangan masyarakat Sinjai, tetap jadi variabel politik  tidak boleh diabaikan begitu saja. Kemenangan calon bupati, harus me-rekeng faktor geopolitik dari pertarung yang akan dipaketkan dalam calon bupati dan wakilnya.  
Kearifan Lokal
      Calon bupati, dituntut kerja keras memasang taktik dan strategi lewat kampanye agar dukungan mayoritas suara  pemilih  berpihak kepada kandidat bersangkutan.
       Pemilih mayoritas masih tinggal jauh di wilayah pedesaan, maka pesan kearifan lokal dalam memilih pemimpin sering menjadi faktor cukup menentukan kemenangan dan kekalahan kandidat.
      Antropolog dan budayawan Sulsel, asal Sinjai, Prof.Dr.H.Abu Hamid, pada makalahnya tidak dipublikasikan‘’Budaya Politik dan Kepemimpinan di Sulawesi Selatan ‘’, dia mengatakan, nilai utama jadi ukuran sikap mental seorang pemimpin Bugis adalah; malempu-pi (kejujuran). Sikap jujur berbuat dan berbicara terhadap diri dan orang lain. Penutup kejujuran adalah perbuatan sewenang-wenang.  
       Adatongeng (berkata benar),  penutup dari sikap ini adalah kebiasan berkata bohong dan dusta.  Amaccangeng  (pintar), sikap ini ditutup oleh  kemarahan suka marah. Ciri orang pintar, manyameng ininnawa (tenang hati) serta memandang segala sesuatu dengan sikap madeceng kalawing ati (baik kandungan hatinya). Siriq atau engkapa siriqna, (memiliki rasa malu), penutup dari sikap ini  rakus,  loba,  (mangowa) 
        Nilai utama itu menurut Abu Hamid, harus dilengkapi syarat  yakni; magetteng…. (konsisten taat asas), kematangan dalam wawasan, pengetahuan dan kepintaran. Awaraningeng (keberanian), syarat ini adalah keberanian mengambil risiko,  mencipta dan gagasan paradigm  baru untuk kesejahteraan masyarakat. Maka-makapi (kemampuan), dilihat dari segi rohani dan tidak cacat. Malabopi (pemurah) memberi sesuai kewajaran serta murah hati membantu orang susah. Sitinajapi (kewajaran). Mappasitinaja (menempatkan urusan sesuai kewajaran menurut situasi sosial).
       Sipakatau (saling memanusiakan), sifat sopan santundan tutur kata berbudi bahasa mulia dalam komunikasi tatap muka. Orang mulia orang tahu memuliakan orang lain. Menutupi sikap sipatau adalah sikap matempo (arogan) dan bangga diri.
         Maccappi duppai ada (pintar menerima menjawab kata), pemimpin bijak menerima saran dan kritikan lalu menjawabnya secara bijak pula,  ia memahami dibalik ucapan orang serta maksud dan tujuannya serta madeceng kalawing ati  (baik kandungan hati) …. Dimuat di Harian Tribun Timur, 16 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar